<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia :: One and Only &#187; Trade</title>
	<atom:link href="http://www.1ndonesia.info/category/general/trade/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.1ndonesia.info</link>
	<description>Igniting Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 02:44:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Industri Kapal Dapat Order Rp 2,7 Triliun dari Norwegia</title>
		<link>http://www.1ndonesia.info/2008/09/industri-kapal-dapat-order-rp-27-triliun-dari-norwegia/</link>
		<comments>http://www.1ndonesia.info/2008/09/industri-kapal-dapat-order-rp-27-triliun-dari-norwegia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 06:31:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Industry]]></category>
		<category><![CDATA[Norway]]></category>
		<category><![CDATA[Sector]]></category>
		<category><![CDATA[Trade]]></category>
		<category><![CDATA[Transportation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.1ndonesia.info/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 28 Agustus 2008 &#124; 00:54 WIB
Kompas.com


Batam, Kompas &#8211; Industri galangan kapal PT Batamec di Batam menerima order pembuatan kapal tandu dari perusahaan perkapalan di Norwegia senilai Rp 2,7 triliun. Dua kapal tandu yang telah selesai dikerjakan segera dikirim ke Norwegia.
Hal itu dikatakan Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Ismeth Abdullah di Batam, Rabu (27/8). ”PT Batamec [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis, 28 Agustus 2008 | 00:54 WIB</p>
<p><a title="Pesanan Kapal dari Norwegia" href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/28/00544897/industri.kapal.dapat.order.rp.27.triliun.dari.norwegia">Kompas.com</a></p>
<div class="txtartikelcetak">
<div id="article_body">
<p>Batam, Kompas &#8211; Industri galangan kapal PT Batamec di Batam menerima order pembuatan kapal tandu dari perusahaan perkapalan di Norwegia senilai Rp 2,7 triliun. Dua kapal tandu yang telah selesai dikerjakan segera dikirim ke Norwegia.</p>
<p>Hal itu dikatakan Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Ismeth Abdullah di Batam, Rabu (27/8). ”PT Batamec menerima pesanan 10 kapal dari Norwegia karena biaya pembuatan kapal itu di Batam lebih murah dibandingkan dengan pembuatan kapal sejenis di negara-negara Eropa,” ujarnya.<span id="more-208"></span></p>
<p>Sementara itu, Managing Director Allocean—salah satu perusahaan yang memesan kapal— John P Love mengatakan, nilai kapal tandu yang dipesan mencapai 30 juta dollar Amerika Serikat (AS) per unit. Kapal itu digunakan untuk menarik kapal-kapal besar, seperti kapal tanker, kapal kargo, dan kapal pengangkut gas alam cair (LPG).</p>
<p>Dengan pesanan sebanyak 10 unit, nilai proyek pembuatan kapal itu mencapai 300 juta dollar AS atau setara Rp 2,7 triliun dengan nilai tukar Rp 9.000 per dollar AS.</p>
<p>John menilai kapal tandu produksi PT Batamec baik. Karena itu, perusahaan di Norwegia itu memesan 27 unit kapal.</p>
<p>Menurut Ismeth, dengan banyaknya pesanan pembuatan kapal di Batam, pemerintah pusat dapat memperoleh pajak dari pajak penghasilan badan. Selain itu, tenaga kerja lokal dapat terserap.</p>
<p>Ismeth belum dapat memastikan seberapa besar tenaga kerja lokal terserap atau bekerja di tingkat manajerial di perusahaan galangan kapal. Yang jelas, salah satu manajer, Commissioning Manager Yan Naing Kyaw, merupakan warga negara Myanmar.</p>
<p>Menurut Ismeth, dengan perkembangan industri galangan kapal, tenaga kerja lebih banyak dapat terserap. ”Masyarakat yang bekerja di perusahaan tersebut dapat memperoleh penghasilan,” katanya. Bahan baku yang dipakai berasal dari produk lokal dan sebagian diimpor. (FER)</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.1ndonesia.info/2008/09/industri-kapal-dapat-order-rp-27-triliun-dari-norwegia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmuwan Indonesia Buat Terobosan Baru Pengolahan Kepiting</title>
		<link>http://www.1ndonesia.info/2008/08/ilmuwan-indonesia-buat-terobosan-baru-pengolahan-kepiting/</link>
		<comments>http://www.1ndonesia.info/2008/08/ilmuwan-indonesia-buat-terobosan-baru-pengolahan-kepiting/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 07:59:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Science]]></category>
		<category><![CDATA[Trade]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.1ndonesia.info/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Nyaris sepuluh jari tangannya pernah terluka dan berlumuran darah karena tercapit kepiting. Namun, dia tidak pernah kapok meneliti hewan yang bercangkang keras itu.
Itulah Dr Ir Yushinta Fujaya MSi, dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, yang tengah memperjuangkan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) terhadap sebuah karya penelitian tentang budidaya kepiting cangkang lunak.
Kelembutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nyaris sepuluh jari tangannya pernah terluka dan berlumuran darah karena tercapit kepiting. Namun, dia tidak pernah kapok meneliti hewan yang bercangkang keras itu.</p>
<p>Itulah Dr Ir Yushinta Fujaya MSi, dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, yang tengah memperjuangkan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) terhadap sebuah karya penelitian tentang budidaya kepiting cangkang lunak.<span id="more-141"></span></p>
<p>Kelembutan dan ketekunan perempuan kelahiran Makassar, 23 Januari 1965, ini membuahkan cara lebih elegan untuk menaklukkan kepiting.</p>
<p>Dengan menyuntikkan ekstrak bayam pada tubuh kepiting, Yushinta membuktikan bahwa upaya melunakkan cangkang kepiting tak selamanya harus menempuh cara mutilasi. Bahkan, berkat metodenya ini, periode pelunakan kulit kepiting bisa dipersingkat dari biasanya 30-35 hari menjadi 16-20 hari.</p>
<p>Selama ini, untuk melunakkan cangkang kepiting, nelayan biasanya menggunakan cara mencopot kaki-kakinya. Teknik mutilasi hewan berhabitat air payau tersebut membuat kepiting melakukan molting, pelunakan cangkang.</p>
<p>Bagi kepiting, itu merupakan proses regeneratif dengan merangsang fisiologi hormonal untuk menumbuhkan kembali anggota badan yang patah atau rusak. Naluri body building seperti ini juga ada pada cecak. Cecak tidak perlu risau jika ekornya buntung karena terjepit pintu. Dalam periode tertentu, secara alami akan tumbuh kembali buntut baru.</p>
<p>”Sekilas, memang tidak ada masalah. Tapi, ditinjau dari sisi lingkungan dan pemasaran kepiting di mancanegara, cara ’penganiayaan’ seperti itu sudah kuno. Jika dipertahankan, kepiting asal Indonesia bakal ditolak di pasaran ekspor,” urainya.</p>
<p>Padahal, kepiting merupakan salah satu primadona ekspor hasil laut dari Sulawesi Selatan (Sulsel) dan juga sejumlah provinsi di Kawasan Timur Indonesia, di samping udang, ikan tuna, dan rumput laut.</p>
<p>Yushinta yang sudah menjurnalkan 22 publikasi ilmiah menegaskan, istilah mutilasi tak hanya seram dan mengerikan bagi kehidupan manusia. Dalam konteks ini, mutilasi juga menekan kelangsungan kehidupan hewan dan berisiko mengurangi nilai ekonomis dan kemaslahatannya bagi masyarakat.</p>
<p>Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor ini mencermati, kian tumbuhnya kesadaran akan nilai-nilai perikemanusiaan di berbagai belahan dunia semakin menebalkan pula kesadaran akan ”perikehewanan”.</p>
<p>”Makin banyak negara yang menjunjung tinggi penegakan HAM, dan pada saat bersamaan tumbuh pula kesadaran masyarakat untuk melindungi hak hidup binatang, animal welfare,” ujarnya seraya menyebut sederet negara maju yang merupakan pasar ekspor potensial bagi kepiting Indonesia.</p>
<p>Kepiting yang lazim dibudidayakan di sela-sela pepohonan bakau merupakan komoditas serbaguna. Mulai dari daging hingga kulit atau cangkangnya bernilai ekonomis. Tak hanya sebagai bahan makanan, tetapi juga menjadi bahan obat-obatan.</p>
<p>Daging kepiting rendah lemak, tinggi protein, serta sumber mineral dan vitamin. Meski mengandung kolesterol, daging hewan ini rendah kandungan lemak jenuh. Selain juga merupakan sumber niacin, folate, dan potasium, vitamin B12, phosporous, zinc, copper, dan selenium. Selenium berperan mencegah kanker dan perusakan kromosom, serta meningkatkan daya tahan terhadap infeksi virus dan bakteri.</p>
<p>Kepiting juga mengandung nutrisi bernilai tinggi terutama chitosan dan karatenoid yang banyak terdapat pada kulitnya. Chitosan dan karatenoid berfungsi menyerap lemak dan kolesterol, selain racun-racun lain.</p>
<p><strong>Kulit kepiting yang telah diolah oleh industri bisa menjadi bahan baku obat dan kosmetik. Hal inilah yang membuat kepiting menjadi buruan negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa.</strong></p>
<p><strong>Terinspirasi ”Popeye”</strong></p>
<p>Penelitian soal kepiting lunak ini hanyalah satu dari 18 judul penelitian yang telah dirampungkan Yushinta sejak menjadi dosen Unhas tahun 1989.</p>
<p>Dari mana ibu dua anak ini memperoleh semua ide itu? Rupanya penelitian ini terinspirasi sosok Popeye, tokoh pelaut dalam sebuah film kartun. Sebelum bertarung menaklukkan lawan-lawannya, Popeye terlebih dulu selalu melahap bayam sebanyak-banyaknya. Alhasil, tubuh Popeye jadi kekar, bugar, dan sangat tangguh bagi lawan-lawannya.</p>
<p><strong>”Dari (film kartun) Popeye, saya penasaran untuk meneliti zat yang terkandung pada bayam,” tutur Yushinta.</strong></p>
<p>Rupanya, bayam, pakis, dan tumbuhan paku-pakuan mengandung ekdisteroid, sejenis hormon molting yang mempercepat kepiting dan sejenisnya untuk mengelupas kulit lama dan meremajakannya kembali.</p>
<p>Bersama tim dari Balai Riset Budidaya Perikanan Air Payau Kabupaten Maros, Sulsel, sekitar satu tahun lalu, mulailah Yushinta melakoni langkah-langkah penelitian. Bermula dari pengukuran kadar ekdisteroid dalam tiap individu kepiting. Secara alami, untuk molting kepiting butuh ekdisteroid 500 nanogram per gram berat badannya.</p>
<p><strong>Di lokasi penelitian Balai Riset Budidaya Perikanan Air Payau, Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, ekstrak bayam disuntikkan pada pangkal kaki kepiting sebanyak sepersepuluh mililiter untuk tiap kepiting. Pangkal kaki kepiting mempunyai bagian yang lunak serta memiliki pembuluh darah sehingga memudahkan kerja hormonal untuk molting. Hasilnya, cangkang yang semula keras pelan-pelan melunak.</strong></p>
<p>”Penelitian ini memerlukan tindak lanjut lebih konkret bagi industri,” ungkap Yushinta.</p>
<p>Tantangan yang paling berat adalah bagaimana memurnikan ekstrak bayam dengan biaya yang terjangkau. Biaya pemurnian bisa mencapai Rp 3 juta per 5 miligram. <strong>Oleh Yushinta dan timnya, temuan terhadap ekstrak bayam itu diberi nama ”Vitomolt”.</strong></p>
<p><strong>Melalui Sentra HaKI Unhas, Yushinta telah bermohon kepada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk hak patennya.</p>
<p>”Agar tidak dicuri dan didahului negara lain, pemerintah harus cepat-cepat memproses dan mengabulkannya,” pinta Yushinta.</p>
<p>Jika pemerintah kurang tanggap dan lamban, bukan tidak mungkin karya anak bangsa dari Makassar ini benar-benar dicaplok oleh negara lain.</strong></p>
<p>Nasrullah Nara</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.1ndonesia.info/2008/08/ilmuwan-indonesia-buat-terobosan-baru-pengolahan-kepiting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kawasaki to expand sales of new moped to Indonesia in August</title>
		<link>http://www.1ndonesia.info/2008/07/kawasaki-to-expand-sales-of-new-moped-to-indonesia-in-august/</link>
		<comments>http://www.1ndonesia.info/2008/07/kawasaki-to-expand-sales-of-new-moped-to-indonesia-in-august/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 10:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Automotive]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Sector]]></category>
		<category><![CDATA[Trade]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.1ndonesia.info/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Source: Trading Market
TOKYO, Jul 15, 2008 (Asia In Focus via COMTEX) &#8212; KWHIY &#124; Quote &#124; Chart &#124; News &#124; PowerRating &#8212; Buoyed by strong demand for a just-launched sporty motorcycle in the Philippines, KAWASAKI HEAVY INDUSTRIES LTD. (TSE:7012) plans to expand sales to Indonesia next month. According to Kawasaki, the 125cc Fury 125 model [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Source: <a href="http://www.tradingmarkets.com/.site/news/Stock%20News/1758148/" target="_blank">Trading Market</a></p>
<p>TOKYO, Jul 15, 2008 (Asia In Focus via COMTEX) &#8212; KWHIY | Quote | Chart | News | PowerRating &#8212; Buoyed by strong demand for a just-launched sporty motorcycle in the Philippines, KAWASAKI HEAVY INDUSTRIES LTD. (TSE:7012) plans to expand sales to Indonesia next month. According to Kawasaki, the 125cc Fury 125 model is more rigid than other mopeds, enabling it to handle extreme operating conditions.</p>
<p>* Kawasaki had initially planned for annual sales of 20,000 units when the motorbike recently debuted in the Philippines, but strong demand has prompted it to double its target.</p>
<p>* The company anticipates even better sales in Indonesia, where the motorcycle market is growing at a blistering pace.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.1ndonesia.info/2008/07/kawasaki-to-expand-sales-of-new-moped-to-indonesia-in-august/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia Rank 50/125 in WTI: quiet success story</title>
		<link>http://www.1ndonesia.info/2008/07/indonesia-rank-50125-in-wti-quiet-success-story/</link>
		<comments>http://www.1ndonesia.info/2008/07/indonesia-rank-50125-in-wti-quiet-success-story/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 09:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Trade]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.1ndonesia.info/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Source: the World Bank
JAKARTA, July 17, 2008 &#8211; In Indonesia’s on-going, wide-ranging agenda of reforms, the trade sector has proven to be a quiet success story. The Inaugural World Trade Indicators (WTI) report from the World Bank shows that when compared to countries in the East Asia Pacific region and other countries in low-middle-income category [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Source: <a href="http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFICEXT/INDONESIAEXTN/0,,contentMDK:21845022~pagePK:1497618~piPK:217854~theSitePK:226309,00.html?cid=EXTEAPIds1" target="_blank">the World Bank</a></p>
<p><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: x-small;"><strong>JAKARTA, July 17, 2008</strong> &#8211; In Indonesia’s on-going, wide-ranging agenda of reforms, the trade sector has proven to be a quiet success story. The <a href="http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFICEXT/INDONESIAEXTN/0,,contentMDK:21841054%7EmenuPK:224605%7EpagePK:2865066%7EpiPK:2865079%7EtheSitePK:226309,00.html"><span style="color: #004080;">Inaugural World Trade Indicators (WTI)</span></a> report from the World Bank shows that when compared to countries in the East Asia Pacific region and other countries in low-middle-income category – Indonesia has among the lowest trade tariffs for goods. On the tariff restrictiveness index, Indonesia stands at an average of 4.5% compared to East Asian and Pacific countries at 4.9%, and far lower than the middle-income country average of 8.7 percent. The reform effort it has made in trade policy has put Indonesia in the 50th rank out of 125 countries on the WTI.</span><span id="more-42"></span></p>
<p><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: x-small;"> More than simply a report, the <a href="http://info.worldbank.org/etools/wti2008/1a.asp"><span style="color: #004080;">WTI is an online database</span></a> that allows policymakers and researchers to compare the trade performance of their respective countries to others based on four key indicators: trade policy, external environment, institutional environment, and trade facilitation – which when combined feeds into a country’s overall trade outcome. One of the principal authors of the report, <strong>Gianni Zanini, Lead Economist of the World Bank Institute</strong>, recently visited Indonesia as part of a regional road show to launch the WTI. The main event in Jakarta was a presentation at the Department of Trade, in which Zanini shared the key findings of the study and showed what kinds of information could be found on the online database.</span></p>
<p><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: x-small;"> Speaking to the press after the presentation, <strong>Trade Minister Mari Pangestu</strong> underlined that the WTI is not a policy recommendation, but a useful reference tool that could come in very handy for multilateral trade negotiations.<em> “If we want to get low rates, we should negotiate with the destination country,” </em>said <strong>Minister Pangestu</strong>. <em>“WTO negotiations are very important, especially with India and Brazil. Not just with developed countries.”</em></span></p>
<p><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: x-small;"> A second presentation was also given to key members of the local business community, in a special forum organized by a leading business magazine. This time around <strong>Sjamsu Rahardja, Trade Economist for the World Bank’s Indonesia</strong> country office, was on hand to highlight what further challenges lay ahead for Indonesia’s trade sector.<em> “There is still much work to be done beyond lowering tariffs. Indonesia is still faced with a number of bottlenecks – there are the ‘old songs’ of corruption, heavy bureaucracy, inadequate infrastructure, and also the new issues like restrictions on foreign investment and rising commodity prices,” </em>said Rahardja in his presentation.<em> “Indonesia must also look to China, India and Vietnam, and decide whether to look at these emerging markets as challenges or opportunities.” </em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.1ndonesia.info/2008/07/indonesia-rank-50125-in-wti-quiet-success-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
